Our Customer Success Story – 3rd Edition

Setelah menetap cukup lama di luar negeri, akhirnya pada 2011 Dedrick Sebastian memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia bersama dua orang kakaknya, berusaha untuk meneruskan usaha keluarga setelah sang ayah wafat. Mereka bersama-sama mengembangkan usaha peternakan broiler (ayam pedaging) yang telah dibangun selama 30 tahun di Sukabumi. Dedrick mengatakan bahwa ia mengawali bisnis tersebut setelah lulus dari Teknik Industri, Purdue University, USA. Pada awal terjun di dunia peternakan, Dedrick sama sekali belum paham mengenai manajemen ternak broiler. Namun seiring berjalannya waktu, ia pun mulai mengerti cara mengelola bisnis broiler dengan baik.

Mengenal Closed House Pada tahun 2011 jumlah populasi broiler yang dimiliki Dedrick berkisar 200.000 ekor (kandang terbuka). Populasi tersebut sempat meningkat pada tahun 2013 mencapai 700.000 ekor (kandang terbuka). Meski begitu, meningkatnya populasi tidak berjalan beriringan dengan harga di pasaran. Dedrick pun merasa tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal, bahkan merugi.

Dari situlah, di 2014, Dedrick bekerja sama dengan beberapa perusahaan pakan untuk beternak dengan sistem kemitraan dan juga join venture. Selain itu, ia pun mencoba untuk beternak dengan menggunakan sistem closed house (kandang tertutup). Populasi yang awalnya 700.000 ekor (kandang terbuka), ia beranikan untuk mengurangi populasi menjadi 200.000 ekor untuk kandang dengan sistem open house (kandang terbuka) dan mengalihkan sisa dana ke investasi kandang dengan sistem closed house (kandang tertutup) dengan populasi awalnya 90.000 ekor. Dan kini di tahun 2019, populasinya sudah lebih dari 1 juta ekor (kandang tertutup).

Dedrick mengaku bahwa dengan closed house, keuntungan yang diperoleh lebih optimal. “Setelah beternak menggunakan sistem closed house, efisiensi yang saya peroleh jauh lebih besar,” ujarnya. Menurutnya, tidak hanya efisiensi yang didapatkan, melainkan ayam juga tidak mudah terkena penyakit. Bahkan, tingkat kematian di kandang berkurang. Jika beternak dengan open house, tingkat kematian ayam dapat mencapai 20 %, sedangkan dengan closed house hanya 1-2 % saja.

Ia juga menyampaikan bahwa, setelah mengubah pengelolaan kandang, HPP (Harga Pokok Produksi) ayam miliknya berkisar Rp 15.500 – Rp 17.000. Jika dibandingkan dengan sistem open house, HPP-nya mencapai Rp 19.000 per kg. “Saat ini saya bisa memperoleh keuntungan Rp 3.000 – 6.000 per ekor ayam,” ungkapnya. Dalam menggunakan closed house, Dedrick memilih untuk menggunakan NEWLINE yang ditawarkan oleh PT Sinar Mustika Raya. Alasannya, karena NEWLINE merupakan closed house yang berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau. “Jika dengan NEWLINE saja sudah menghasilkan performa yang baik, tidak perlu untuk memilih produk lain yang harganya jauh lebih mahal,” kata Dedrick

Tidak hanya itu, NEWLINE juga merupakan produk yang customize. Dedrick dapat memesan closed house sesuai yang ia inginkan. “Kandang saya terkadang ada yang pendek dan tidak terlalu lebar, keunggulan NEWLINE ini bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada,”pungkasnya Dedrick juga merasa sangat puas bekerjasama dengan PT Sinar Mustika Raya. Pasalnya, tim dari Sinar Mustika Raya selalu bersedia hadir jika terdapat permasalahan di kandang, baik kerusakan ataupun komplain. Mereka dapat melayani dan memberikan full service 1×24 jam.
— TROBOS/Adv

“Sukses Beternak dengan Closed House — tidak hanya efisiensi yang
didapatkan dari penggunaan closed house, melainkan ayam juga tidak
mudah terkena penyakit. Bahkan, tingkat kematian di kandang berkurang.”